Hemat Energi Ala SD Al Fatah

Bandung- Pemanasan global saat ini telah terjadi di seluruh dunia. Bandung yang dulu terkenal dingin saat ini sudah mulai panas saat siang hari. Saat malam, suhu udara menurun sehingga suasananya dingin. Dampak lokal dari pemanasan global ini, menjadi bahasan pada pembelajaran lingkungan hidup Panasonic Eco Kideas bersama Tunas Hijau, Selasa (23/10), di SD Al Fatah Bandung. 

Siswa SD Al Fatah Bandung berpose bersama pasca pembelajaran lingkungan hidup

“Suhu yang panas tersebut diakibatkan karena banyaknya jumah kendaraan bermotor yang mengeluarkan gas CO2 ke udara,” terang Rakhmah Ananda, aktivis Tunas Hijau, yang memandu pembelajaran lingkungan hidup itu bersama Purbosari, aktivis Tunas Hijau lainnya. Banjir juga kini melanda kota yang dijuluki Kota Kembang. Jika hujan turun agak deras, biasanya terjadi genangan air di sana-sini.

Pemborosan energi listrik juga turut memperparah pemanasan global karena listrik yang dihasilkan merupakan hasil dari pembakaran bahan bakar fosil yang juga menyumbang gas CO2. Di SD Al Fatah, listrik pada siang hari dimatikan sehingga sekolah yang berlokasi di daerah RS Imanuel ini hanya sedikit menyumbang gas CO2 yang dilepaskan ke udara. Lampu benar-benar baru dinyalakan saat suasana gelap. Media yang digunakan selama proses kegiatan belajar-mengajar pun hampir tidak ada yang memerlukan listrik.

Sama seperti yang terjadi di sekolah lainnya, di SD Al Fatah, murid-muridnya masih belum sepenuhnya menyadari manfaat membuang sampah pada tempatnya. Hal tersebut terbukti dari banyaknya murid yang dengan tanpa bersalah dan dengan sengaja membuang bungkus permen di dalam kelas saat pembinaan tengah berlangsung. Hanya beberapa murid saja yang tetap menyimpan bungkus permen dalam genggaman.

Setelah mendapat materi tentang pemanasan global, murid-murid berjanji akan berusaha menjaga bumi agar lebih asri dengan cara membuang sampah pada tempatnya. Jika tidak menemukan tempat sampah, mereka akan menyimpangnya dalam saku dan dibuang ke tempat sampah ketika telah menemukan tempat sampah. “Untuk program lingkungan, insya Allah kami akan mulai memilah sampah botol yang layak jual,“ ujar Eti Karwati, selaku guru pendamping. (ella)