Pemanfaatan Sampah Kering dan Pengomposan Sampah Basah SDN Pondok Labu 13

Jakarta- Kader lingkungan SDN Pondok Labu 13 sukses dengan  program pengomposan. Program lingkungan berkelanjutan  itu dilakukan sejak November 2012. Awalnya sampah yang tersapu oleh karyawan kebersihan sekolah langsung dibedakan menjadi 2 jenis. 

Untuk sampah organik langsung dimasukkan ke tempat penampungan kompos yang terletak di belakang ruang kelas multimedia. Untuk sampah non organik, petugas kebersihan langsung ditampung untuk dijual.

Media pengomposan SDN Pondok Labu 13 Jakarta

Kader lingkungan juga melaksanakan piket kompos. Tugasnya, menambahkan sampah yang sudah dipilah, membalik sampah daun dan menyiramkan cairan EM4. Informasi ini diutarakan oleh Sausan Asilah, siswi kelas 5, saat evaluasi lapangan program pembelajaran lingkungan hidup Panasonic Eco Kideas SDN Pondok Labu 13 Jakarta, Selasa (12/2).

Menurut Aulia Majid Udia Huda, aktivis Tunas Hijau dan anggota tim evaluasi lapangan, selain dengan menambahkan EM4 yang berfungsi sebagai perangsang bakteri, bisa juga menggunakan air leri atau air bekas cucian beras. Juga bisa menggunakan air gula yang fungsinya sama dengan EM4.

Siswa SDN Pondok Labu 13 menunjukkan karya daur ulang sampah kertas

Selain itu, lubang resapan biopori yang banyak terdapat di saluran air hujan sekolah juga bisa dimanfaatkan menjadi media pengomposan. “Karena untuk mengolah sampah daun sudah ada di sekolah, lebih baik biopori dimanfaatkan untuk mengolah sampah sisa makanan,” ujar Aulia Majid.

Daur ulang sampah plastik gelas

Program lingkungan yang berjalan selanjutnya adalah pemanfaatan sampah untuk dibuat menjadi kreasi seni. Seperti yang diajarkan  Rosdita, siswi kelas 5, kepada tim evaluasi lapangan. Menurutnya, bahan utama untuk membuat tirai plastik merupakan sampah gelas bekas air minum kemasan.

Potong ujung gelas lalu badan gelas potong dengan posisi memanjang dengan hitungan genap. Setelah itu, lipat potongan menjadi 2, lalu staples potongan. “Pada saat potongan terakhir, lipat dengan potongan ujung gelas agar bisa dirangkai,” ujar Rosdita. Dalam satu minggu, kader lingkungan bisa membuat sampai 20 tirai dengan corak dan warna yang berbeda.

Selain mengajarkan pemanfaatan sampah, Rofita juga menunjukan cara mendaur ulang kertas.  Sampah kertas didapat dari kelas. Tempat sampah kertas pun terbuat dari bekas karung beras. Setiap Jumat, kader lingkungan keliling untuk mengambil sampah kertas. Kertas yang terkumpul sebagian akan didaur ulang dan sisanya akan dijual dan dimasukan ke dalam kas lingkungan. (suud)