Pembiasaan Buang Sampah pada Tempatnya SDN Serayu

Yogyakarta- Untuk mengetahui pemahaman siswa tentang suatu materi pembelajaran lingkungan hidup cukup mudah. Bahkan bisa dilakukan dengan cara menyenangkan. Melalui media permainan ular tangga lingkungan hidup karya Tunas Hijau, diantaranya. Seperti yang dilakukan saat evaluasi lapangan pembelajaran Panasonic Eco Kideas di SDN Serayu Yogyakarta, Senin (11/2). 

Simulasi pemahaman siswa tentang isu lingkungan dan penerapan kebiasaan ramah lingkungan hidup dilakukan melalui media permainan ular tangga

Dengan permainan ular tangga bertema pemanasan global itu, siswa sekolah ini diajak menjelaskan kebiasaan warga sekolah terkait dengan informasi yang disajikan dalam setiap kotak permainan ular tangga lingkungan hidup itu. “Membakar sampah adalah perbuatan tidak ramah lingkungan, karena bisa menyebabkan polusi udara dan pemanasan global. Di sekolah kami sampah tidak dipilah langsung. Tetapi juga tidak dibakar setelah terkumpul,” kata Naila Farihah, siswa kader lingkungan hidup SDN Serayu.

Menurut Supriyanto, guru olah raga sekolah ini, program lingkungan hidup yang dilaksanakan untuk tindak lanjut pembelajaran lingkungan hidup Panasonic Eco Kideas adalah pembiasaan membuang sampah pada tempatnya. “Bila banyak sekolah yang sudah melakukan pemilahan sampah dengan penyediaan tempat sampah terpilah, kami masih membiasakan siswa tidak membuang sampah sembarangan,” kata Supriyanto.

Pemilahan sampah dilakukan oleh Satpam dan penjaga sekolah sesudah sampah banyak terkumpul menjadi satu. “Pemilahan sampah belum dilakukan dari tempat sampah yang ada, pasalnya belum ada penyediaan tempat sampah yang berbeda di sekolah,” ujar Supriyanto menjelaskan alasan belum adanya pemilahan sampah di sekolahnya.

Siswa SDN Serayu mendapat penjelasan tentang tanaman

Uji kebiasaan membuang sampah pada tempatnya pun dilakukan Tunas Hijau dengan sample 15 perwakilan siswa. Uji ini dilakukan dengan memberi permen kepada masing-masing siswa. Dari uji ini, didapatkan kesimpulan bahwa 4 dari 15 siswa masih membuang sampah sembarangan secara spontan. Meskipun, sesaat setelahnya, sampah bungkus permen itu diambilnya kembali.

Aktivis Tunas Hijau Diofan Kurnia Jati menjelaskan bahwa membuang sampah pada tempatnya saja masih belum cukup saat ini. “Membuang sampah pada tempatnya masih hanya memindahkan masalah sampah kepada orang lain. Kita harus melakukan pengolahan sampah lebih lanjut diawali dengan pemilahan,” ujar Diofan.

Evaluasi lapangan itu dimanfaaykan Tunas Hijau untuk memberi pembekalan tentang penghijauan. Menurut Diofan, ada perbedaan antara pohon pelindung dan bukan pohon pelindung. “Ciri-ciri pohon pelindung adalah adanya kambium dan jaringannya berkayu. Sedangkan tumbuhan perdu adalah sebaliknya,” terang Diofan sambil menunjukkan contoh bukan pohon pelindung, yaitu tanaman sansivera. (ron)