Pengomposan dan Taman di Dalam Kelas SDN Gedongkuning

Yogyakarta- Terletak di perkampungan yang cukup padat, lahan terbatas, dan kondisi awal sekolah yang minim penghijauan, merupakan tantangan tersendiri bagi SDN Gedongkuning Yogyakarta dalam mengikuti program pembelajaran Panasonic Eco Kideas. Kamis (14/2). dilakukan evaluasi lapangan di sekolah yang terletak di jalan Kusuma Negara 62 Yogyakarta bersama Tunas Hijau. 

Aktivis Tunas Hijau Diofan Kurnia Jati memberi pemahaman tentang bahaya sampah plastik kepada siswa SDN Gedongkuning Yogyakarta saat evaluasi lapangan Panasonic Eco Kideas, Kamis (14/2)

Diofan, aktivis Tunas Hijau, ketika mengawali interaksi dengan siswa-siswa kelas 4B menyapa para peserta yang riang gembira ketika Tim Tunas Hijau datang ke sekolah. Maklum, sudah 2 bulan Tunas Hijau tidak datang ke sekolah tersebut untuk memberikan pembelajaran lingkungan hidup Panasonic Eco Kideas. Nampaknya, para siswa terlihat antusias untuk kemudian dilakukan pembelajaran lingkungan secara kontinyu.

Pembelajaran Eco Kideas cukup memberikan pengaruh baik bagi siswa. Pasalnya, sebelum dilakukan pembelajaran, para siswa sebagian besar masih sedikit tidak mengerti tentang cara berperilaku ramah lingkungan. Setelah dilakukan pembelajaran, nampaknya, mind set siswa mulai dapat terbenahi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perkembangan baik dari program yang sudah berjalan.

Diantara program yang sudah berjalan dengan baik di sekolah tersebut adalah pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos. Selama sekitar 2 bulan, sejak mulai Oktober 2012, sekolah ini telah mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos ke dalam 2 tempat yang berbeda.

Tempat pertama terbuat dari tong bertuliskan komposter yang digunakan untuk proses dekomposisi sampah organik sekolah yang berasal dari sampah daun sekolah. Sedangkan tempat yang satunya lagi terbuat dari bekas tempat penampungan air yang biasanya digunakan untuk isi air minum.

Pengolahan sampah organik menjadi kompos di SDN Gedongkuning Yogyakarta

Komposter dari tong diaplikasikan dengan metode pengomposan sisa seresah daun yang dicampur dengan kotoran kambing. Bekas tempat air digunakan untuk pengomposan seresah daun yang disiram dengan menggunakan air gula atau air leri. Kedua metode ini menarik untuk terus dikembangkan karena dengan tenggat waktu dua bulan saja sekolah dapat memanen kompos lebih dari 10 kg yang bisa langsung dimanfaatkan untuk pemupukan.

Tidak kalah dengan tim Tunas Hijau yang biasanya memberi pembelajaran lingkungan hidup, Rini, kordinator guru yang menangani program ini, diminta turun tangan memberikan pembelajaran kepada siswanya untuk dapat mengontinyukan pengolahan sampah organik di sekolah.

“Pengolahan sampah organik ini selain bermanfaat untuk lingkungan, juga dapat dijual untuk memberikan pelatihan jiwa wirausaha anak-anakku. Jika kita terus mengolah sampah organik ini, paling tidak kita bisa memperkecil permasalahan lingkungan sekolah,” ujar M. Rini Windarti kepada siswa-siswanya yang berdiri mengelilinya tong pengomposan.

Selain program pengolahan sampah organik, satu hal unik lagi yang dapat dilihat di sekolah ini adalah taman pot bunga dan tanaman hias yang tertata rapi di dalam kelas. Dalam sesi evaluasi tersebut Tunas Hijau menemukan suasana yang enak dipandang di kelas 4 B. Dimana disetiap kelas terdapat pot-pot tanaman hias yang menambah kenyamanan kelas sebagai basis pembelajaran terkecil dari sekolah.

Dalam kegiatan evaluasi tersebut, Tunas Hijau juga memberikan pembelajaran sederhana tentang upaya untuk mengurangi sampah plastik agar sekolah tidak memiliki masalah baru yang dapat mengganggu kenyamanan kegiatan belajar mengajar.

Tunas Hijau juga menyarankan agar tetap memanfaatkan setiap tetesan air AC untuk ditampung yang kemudian bisa disiram untuk tanaman yang ada di sekolah. “Tetesan air ini seandainya bisa ditampung dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman di sekolah”, tegas Diofan Kurnia Jati. (dio)