SDI Sabilillah Gelar Kampanye Lingkungan Rutin

Malang- Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengajak orang lain peduli lingkungan. Seperti yang dilakukan oleh beberapa orang perwakilan siswa KADARLING atau Kader Sadar Lingkungan SDI Sabilillah Kota Malang kepada seluruh warga sekolah, yaitu guru, siswa dan orang tua siswa. 

Cara yang mereka gunakan adalah dengan menggelar kampanye lingkungan di depan halaman masjid. Kalimat-kalimat berbunyi ajakan untuk membuang sampah pada tempatnya dan sesuai jenisnya dikumandangkan pada kampanye itu.

Kampanye lingkungan yang dilakukan olek Kadarling (kader sadar lingkungan) SDI Sabilillah Kota Malang untuk mengajak warga sekolah cinta lingkungan

Adetya Dwi Wardani, guru sekolah ini, menerangkan bahwa sebagai kader lingkungan sekolah, mereka tidak henti-hentinya untuk mengingatkan agar warga sekolah peduli ingkungan. “Kampanye lingkungan ini akan diagendakan untuk diadakan setiap bulannya,” kata Adetya Dwi Wardani kepada Tunas Hijau saat penilaian lapangan program lingkungan hidup Panasonic Eco Kideas, Sabtu (2/2).

Dalam penilaian ini, Adetya Dwi Wardani menuturkan bahwa sampah organik yang ada di sekolahnya sangat berpotensi untuk dijadikan pupuk kompos. ”Sampah organik yang ada di sekolah ini sangat banyak untuk dijadikan kompos. Minggu lalu saja kami sudah melakukan panen kompos yang kami gunakan untuk memupuk tanaman. Sisanya kami bagikan ke kantin,” tutur Adetya Dwi yang juga guru kelas 4.

Kadarling SDI Sabilillah Kota Malang dengan tanaman peliharaan mereka yang tumbuh subur.

Uniknya, KADARLING ini juga bekerjasama dengan pihak kantin dalam mengolah sampah organik yang ada di sekolah khususnya sampah yang dihasilkan oleh dapur. ”Hampir setiap hari pengelola kantin sekolah selalu menghasilkan sampah sisa dapur seperti sayuran untuk bisa kami olah,” imbuh Dwi Wardani.

Sementara itu, momen penilaian ini juga digunakan oleh Aldira, siswa kader lingkungan, untuk mengajak teman-temannya yang lain untuk bersosialisasi kepada pengelola kantin. Dalam sosialisasi ini, kader lingkungan mengajak kantin untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos dengan media tong aerob.

”Ibu-ibu saya mohon bantuannya untuk bisa membantu kami mengolah tong aerob ini supaya menjadi kompos. Nanti kalau sudah panen, silahkan ibu-ibu bisa ambil untuk tanaman di rumah,” ujar Aldira, siswa kelas 5. Menurutnya, setiap hari sampah organik khususnya sisa sayuran dari dapur kantin bisa mencapai satu bak besar.

Masykur, guru SDI Sabilillah, juga menanyakan kepada Tunas Hijau tentang pengolahan sampah organik khusus sisa makanan. “Kak, kami kesulitan dalam mengolah sampah organik khususnya sisa makanan. Jujur saja, di sekolah kami sangat besar potensinya dalam menghasilkan sisa makanan. Semua makanan siswa di suplay dari dapur ini dan pasti ada sisa makanannya. Nah bagaimana mengolahnya selain ditaruh dalam tong aerob?” tanya Maskur.

Pengomposan sampah organik sisa dapur kantin sekolah dengan menggunakan tong aerob

Merespon pertanyaan guru kelas 6 ini, Anggriyan menyarankan untuk membuat alat pengolahan sampah organik sederhana yang menyerupai keranjang komposter. “Saya rasa untuk mengolah sampah sisa makanan, tidak harus dengan tong aerob, karena kalau dicampur dampaknya adalah bau yang tidak sedap. Lebih baik lagi kalau sekolah membuat alat pengolahan sampah organik baru, yang biasanya sering disebut sebagai keranjang komposter,” saran Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau yang juga anggota tim penilaian lapangan.

Bila tidak punya, saran Anggriyan, sekolah bisa membuat sendiri hanya dengan berbekal kardus bekas dan bantalan sekam serta kompos sebagai starterntya. “Bisa juga dengan membuat sendiri dengan ukuran yang lebih besar,” jelas Anggriyan kepada Masykur. Sekolah juga bisa melombakan pembuatan komposter itu antar kelas. (ryan)